English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Tuesday, September 3, 2013

Suriah Siaga Perang

suriah, pilkada jatim, senjata kimia
DAMASKUS, Suriah—Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad bersiap menghadapi serangan Amerika Serikat di ibukota Suriah, Damaskus. Para warga sipil diperintahkan mengungsi dan tentara ditempatkan pada apartemen-apartemen kosong.

Seorang pejabat senior Suriah mengatakan, Senin bahwa tentara Suriah dan Hizbullah, kelompok Syiah asal Libanon akan melakukan serangan balik jika AS melakukan serbuan dengan terlebih dahulu menghantam sejumlah kapal perang AS yang kini menguasai Laut Mediterania.

Merujuk kepada Hizbullah sebagai pasukan perlawanan, Khaled Abboud, seorang anggota DPR dan tangan kanan Assad mengungkap kepada Wall Street Journal: “Pasukan perlawanan dan tentara kini satu kesatuan. Menurut saya, Hizbullah akan berpihak kepada Suriah dalam sejumlah operasi tertentu yang menargetkan kapal perang [milik AS] di [Laut] Mediterania.”

Pelbagai pernyataan yang dikeluarkan sejumlah pejabat mulai dari para juru bicara Gedung Putih hingga John Kerry sepertinya mengerucut kepada akan dimunculkannya reaksi agresif terhadap Suriah tanpa persetujuan Kongres AS atau PBB. Namun, Sabtu lalu, rencana itu mengalami perubahan dramatis.

Pemerintahan Assad terus membangun persiapan, sementara Presiden Barack Obama pekan lalu berupaya mendapatkan persetujuan para anggota Kongres untuk meluncurkan serangan setelah Washington dan sejumlah kelompok oposisi menuding Damaskus telah melakukan serangan dengan senjata kimia yang menewaskan lebih dari 1400 orang bulan lalu.

Pemerintah Suriah memperingatkan rakyatnya untuk menyingkir dari basis-basis militer di luar Damaskus. Pasalnya, tentara mulai memasuki keadaan siaga perang di kota yang menjadi lokasi instalasi militer dan keamanan serta kantor-kantor pemerintahan.

Di wilayah Kfar Sousseh, Malki, dan Mezze, pihak militer menempati apartemen-apartemen yang kosong, ujar warga. Banyak pemilik apartemen yang telah meninggalkan kota selama Suriah diguncang konflik bersenjata dua tahun belakangan.

Beberapa badan keamanan serta kantor-kantor strategis milik pemerintah, termasuk Dewan Menteri dan Kementerian Luar Negeri berlokasi di Kfar Sousseh, yang juga menjadi daerah permukiman berisi gedung-gedung bertingkat.

Sejumlah titik di kawasan itu dipenuhi dengan kendaraan lapis baja dan truk yang dilengkapi senjata antipesawat.

Pemerintah memperingatkan warganya untuk waspada terhadap desas-desus yang disebarkan sebagai bagian dari perang psikologis oleh AS dan para sekutunya. Sejumlah isu itu di antaranya adalah “rumor mengenai kaburnya sejumlah figur penting ke luar negeri” serta “beberapa video berisi orang-orang dengan wajah mirip para pejabat Suriah,” demikian iklan yang dimuat di koran pemerintah.

Sementara itu, sekelompok pendukung garis keras pemerintah meluncurkan kampanye berjudul “langkahi mayat kami.” Menurut para anggotanya, gerakan itu melibatkan orang-orang yang berkemah di wilayah yang sekiranya akan menjadi sasaran serangan militer AS.

Sementara itu, Amerika Serikat berjaga-jaga di Laut Mediterania dengan lima kapal destroyer bersenjatakan peluru kendali dan kapal amfibi berisi ratusan anggota Marinir dalam keadaan siap tempur.

Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, belum secara terbuka mengomentari tudingan AS. Hizbullah, yang, seperti rezim Assad, dibeking Iran, masuk ke dalam daftar kelompok teroris AS.

Tahun ini, Hizbullah memainkan peranan penting dalam membantu Assad merenggut kembali wilayah pendudukan tentara pemberontak di Suriah tengah. Menurut para pakar, Hizbullah dan Suriah memiliki roket jarak jauh.



http://indo.wsj.com/posts/2013/09/03/suriah-siaga-perang/

0 komentar:

Post a Comment

 
Back to Top