KONTAK PERKASA (12/09) - Saat dunia dilanda krisis keuangan 2008 lalu, Asia diprediksi mampu bertahan dan akan baik-baik saja. Sistem perbankan yang kuat, bersama pesta kredit di Cina yang disokong oleh pemerintah, dengan cepat mendorong ekonomi negara-negara Asia kembali mencatat pertumbuhan.
Pada 2010, investor yakin akan ada perubahan permanen dalam peta kekuatan ekonomi global. Mereka menggerakkan nilai saham dan mata uang di Asia hingga ke level tertingginya. Hanya dua tahun pasca-kebangkrutan Lehman Brothers, saham-saham Asia meroket sebesar 40%, melebihi kinerja saham Amerika Serikat sebesar 42 persentase poin.
Namun kini, lima tahun pascakrisis, diagnosis untuk Asia justru lebih suram. Beberapa pelaku pasar memang telah mengambil pelajaran dari krisis, dan ada pula yang diuntungkan dengan cara lain. Di saat yang bersamaan, sejumlah negara justru memperlemah pertahanannya terhadap krisis keuangan, atau malah menjadi sumber masalah baru.
Sebagian pertumbuhan di Asia dicapai dengan berutang. Kawasan ini pun sempat diuntungkan oleh stimulus moneter di AS dan Eropa yang berdampak pada penurunan suku bunga. Investor yang mencari yield pun beramai-ramai menanamkan modalnya di negara berkembang. Kini, Asia dipusingkan oleh arus penarikan modal keluar. Utang yang menumpuk pun merupakan risiko terhadap pertumbuhan di masa depan.
“Pasar keuangan Asia akan berat dalam dua tahun ke depan,” ujar Amar Gill, kepala riset Asia untuk firma pialang CLSA Asia-Pacific Markets.
Bagi investor yang tengah memilih saham saat krisis Lehman bermula, saham-saham AS sebetulnya merupakan pilihan yang lebih baik ketimbang saham Asia. Indeks Standard & Poor’s 500 naik 41% sejak krisis, enam poin persen di atas indeks MSCI, yang mencakup saham-saham Asia di luar Jepang.
Awalnya, krisis sangat terasa di Asia. Kapal-kapal kargo terbengkalai di pelabuhan Hong Kong dan Singapura lantaran ekspor yang anjlok. Bank-bank menyimpan dolarnya dan lembaga pendanaan perdagangan menghilang. Jutaan pekerja di-PHK oleh pabrik-pabrik di selatan Cina. Pasar keuangan jatuh dan dana-dana investor kecil beku atau hilang saat produk investasi yang terkait Lehman Brothers anjlok.
Namun Asia sukses bangkit dari krisis lebih cepat ketimbang wilayah lain. Pasar saham Cina sudah berhasil melewati titik terendahnya pada Oktober 2008, enam bulan sebelum negara-negara lain.
Pada akhir 2008, Beijing memerintahkan bank-bank pemerintah untuk membuka keran kredit guna menangkis dampak ekspor yang jatuh. Cina pun dilanda lonjakan pembangunan yang menghasilkan jembatan, rel kereta, hotel, dan perumahan baru. Pertumbuhan ekonomi Cina pun tidak lagi terlalu mengandalkan ekspor, dan beralih ke belanja infrastruktur yang dibayari kredit.
Pertumbuhan di Asia meroket pada 2010 dan 2011. Salah satu faktornya adalah lonjakan pembangunan di Cina yang meningkatkan permintaan impor komoditas, seperti batu bara Indonesia, karet Thailand, dan mesin berat Korea. Namun pesta belanja ini tidak bertahan lama. Ekspansi ekonomi Cina tahun ini diprediksi menjadi yang terlamban sejak 1990.
“Model investasi yang lama telah usang dan kini kita melihat model investasi berdasarkan utang juga akan kadaluwarsa,” ujar Andrew Shen, mantan petinggi regulasi sekuritas Hong Kong dan presiden lembaga penelitian Fung Global Institute.
Positec Group di Suzhou, Cina, produsen alat-alat teknik dan perlengkapan berkebun merek Rockwell dan Worx, mengalami penurunan volume ekspor pada 2008. Tetapi mereka tidak pernah kesulitan mencari kredit. Lima tahun kemudian, angka ekspor naik. Namun, yang jadi masalah saat ini adalah situasi perkreditan bank-bank Cina. Para pengamat khawatir booming peminjaman pasca-Lehman membuat perbankan mengalami kredit macet.
“Kini tampaknya Cina bakal dihantui semacam krisis,” ujar Tom Duncan, direktur utama cabang Positec di Amerika Serikat (AS). “Kami telah berupaya melakukan diversifikasi pendanaan sebisanya, kalau-kalau ada sesuatu dan pasar kredit menjadi macet.”
Krisis tahun 2008 di negara-negara Barat membawa sejumlah perubahan penting di Asia. Mungkin, hal terpenting adalah keputusan Cina untuk membolehkan mata uangnya digunakan di negara lain. Itu adalah reaksi atas tersendatnya kredit mata uang dolar AS selama krisis. Kini, lebih dari 11% perdagangan barang Cina memakai yuan. Pada 2008, transaksi lintas batas menggunakan yuan dianggap ilegal.
Saat sejumlah negara Asia baru-baru ini dihantam oleh masalah pencabutan stimulus moneter negara-negara Barat, beberapa pihak menarik napas lega karena tidak tersangkut problem yang lebih parah. Korea Selatan, contohnya, bisa saja tercatat sebagai pemilik Lehman Brothers saat bank itu runtuh.
Jun Kwang-woo adalah kepala badan regulator keuangan Korea Selatan pada 2008. Saat itu, ia melarang Bank Pembangunan Korea (KDB) untuk ikut memiliki saham di Lehman dalam jumlah besar, hanya beberapa waktu sebelum perusahaan AS itu ambruk. Ketika kesepakatan tersebut gagal, saham Lehman merosot sebesar 40%.
“KDB ibaratnya adalah perahu yang terlalu kecil untuk bisa menyelamatkan Titanic yang mulai karam. Saat mengingatnya kembali, saya rasa saya [mengambil keputusan yang] tepat,” ujar Jun yang kini menjadi guru besar Yonsei University di Seoul.
“Jika KDB serius dalam proses pengambilalihan Lehman, pemulihan Korea akan kian sulit.”
Mata uang Korea terperosok setelah Lehman bangkrut karena perbankan lokal terlalu bergantung pada pinjaman asing. Sejak itu, menurut para regulator, titik lemah Korea tersebut ditambal habis-habisan.
Sejumlah bank di Asia telah menemukan jalan untuk memanfaatkan periode pascakrisis. Asia Tenggara mengalami pertumbuhan pesat beberapa tahun belakangan dan beberapa bank mencuri kesempatan untuk melakukan ekspansi. CIMB Group Holdings Bhd, bank terbesar kedua Malaysia, mengakuisisi bisnis bank investasi Asia milik Royal Bank of Scotland Group Plc pada 2012. “Kami tidak lagi silau oleh bank-bank Barat yang memiliki nama besar,” ujar Nazir Razak, direktur utama CIMB.
“Bank-bank kami tidak melakukan kegiatan yang pelik dan tidak terlalu terpapar bank lain yang berada di luar negaranya,” lanjut Nazir. “Jika terjadi kegagalan perbankan besar-besaran di Asia, kemungkinan penyebabnya adalah kekeliruan pelaporan atau penyelewengan.”
Babak akhir drama krisis keuangan akan bergulir ketika stimulus moneter di negara maju usai. Suku bunga di negara-negara tersebut akan naik, dan modal pun akan ditarik dari Asia. India dan Indonesia tengah bergelut dengan defisit transaksi berjalan yang menggelisahkan. Kini, mungkin akan lebih sulit menarik dolar AS. Tingkat utang jauh lebih tinggi dibanding krisis keuangan Asia 1997. Para pengambil kebijakan pun memiliki opsi terbatas.
“Ketersediaan ‘uang panas’ dalam beberapa tahun terakhir membuat [beberapa negara Asia] lengah,” ujar Sheng. “Modal masuk itu tidak bisa [dinikmati] begitu saja.”










0 komentar:
Post a Comment