KONTAK PERKASA (13/09) - JENEWA - Amerika Serikat (AS) dan Rusia mengawali upaya membongkar jaringan senjata kimia Suriah. Upaya ini berlandaskan janji Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk menyepakati larangan penggunaan dan produksi senjata kimia. Namun janji-janji itu mulai terlihat meragukan.
Pada Kamis, Assad menegaskan ia akan menangguhkan rencana penyerahan senjata kimia, kecuali pemerintahan Presiden AS Barack Obama menarik ancaman bakal melancarkan tindakan militer jika Damaskus tak mematuhi rencana perlucutan. Tantangan dari Assad ini menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan Rusia—yang selama ini menjadi sekutu dekat Suriah—untuk mengendalikan rezim Assad.
“AS perlu menghentikan kebijakan yang mengancam Suriah,” sahut Assad kepada stasiun televisi pemerintah Rusia.
Tak jelas apakah komentar itu merupakan upaya Assad mengajukan persyaratan dalam negosiasi penyerahan senjata, atau upaya pencitraan Assad sebagai pemimpin yang tegas di mata dalam negeri. Sejak Senin, rezim Suriah berupaya mencitrakan inisiatif Rusia sebagai kemenangan taktis untuk Damaskus dan Moskow.
Di tempat terpisah, duta khusus Suriah untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengulang seruan lama terhadap Israel agar mengungkap persenjataan nuklir mereka, juga menyerahkan pengawasannya kepada komunitas internasional.
Beragam perkembangan ini turut mengusik pertemuan antara Menteri Luar Negeri (Menlu) AS John Kerry dan Menlu Rusia Sergei Lavrov di Jenewa. Tak hanya itu, Kerry akhirnya melontarkan peringatan keras terhadap Suriah.
“Ini suatu permainan. Saya sudah mengatakannya kepada teman saya, Sergei [Lavrov], kala kami berbicara tentang perkara ini,” papar Kerry dalam konferensi pers bersama Lavrov di Jenewa.
Kerry menambahkan, perlucutan senjata kimia mesti tepat waktu dan dilaksanakan dalam waktu yang tepat. “Pada akhirnya, mesti ada konsekuensi jika [perlucutan senjata kimia] tak terlaksana.”
Sebagai dukungan bagi komentar Kerry, Pentagon pada Kamis menyatakan dua kapal perang AS bakal terus bersiaga di Laut Tengah dan Laut Merah, meski jadwal sebelumnya mengharuskan kedua kapal itu pindah ke lokasi lain. Mereka ditugasi untuk menekan Suriah selama negosiasi penyerahan senjata kimia berlanjut.
Suriah mengambil langkah awal dalam negosiasi dengan mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Dalam suratnya, Damaskus mengumumkan keputusan mereka untuk bergabung dalam Konvensi Senjata Kimia. Perjanjian ini dibuat pada 1997 dan memuat larangan produksi berikut penggunaan senjata kimia.
Di bawah rencana negosiasi versi Rusia, berdasarkan keterangan petinggi Washington dan Moskow, langkah berikutnya adalah Suriah mengungkap lokasi dan kapasitas gudang persenjataan kimia kepada Organisasi Larangan Senjata Kimia yang bermarkas di Den Haag. Selanjutnya, penyelidik dari lembaga itu akan menelisik area senjata kimia Suriah. Penyelidik lalu menyepakati jadwal penghancuran senjata kimia dengan Damaskus.
Kerry dan Lavrov berjanji akan bekerja sama dalam pelaksanaan perlucutan senjata kimia. Namun, perpecahan tetap tak bisa dihindarkan.
AS menyokong usulan resolusi Perancis kepada Dewan Keamanan PBB. Perancis mendesak tindakan militer terhadap Suriah, jika Assad mundur dari komitmen perlucutan senjata. Lavrov di Jenewa menegaskan bahwa ancaman serangan militer sekarang mesti disingkirkan dari meja perundingan.
http://indo.wsj.com/posts/2013/09/13/perlucutan-senjata-suriah-mulai-goyah/










0 komentar:
Post a Comment