KONTAK PERKASA (05/09) - Minyak mentah berjangka beringsut menguat, karena pelaku pasar masih fokus mengamati data pekerjaan dan data pasokan AS serta ketegangan di wilayah timur tengah masih membebani pasar.
Di New York Mercantile Exchange , minyak mentah untuk pengiriman Oktober diperdagangkan pada USD107.33 per barel selama perdagangan pagi di Eropa , naik 0,09 % .
Kontrak Oktober menetap 1,21 % lebih rendah pada USD107.23 per barel pada hari Rabu .
Minyak berjangka kemungkinan besar akan mencari support di USD105.86 per barel , terendah sejak tanggal 2 September dan resistance pada USD108.81 per barel tertinggi sejak tanggal 3 September .
Harga minyak melonjak ke level tertinggi 27 bulan USD112.22 per barel pada 28 Agustus di tengah indikasi AS akan segera mengambil tindakan militer terhadap Bashar al Assad.
Sementara Suriah bukanlah produsen minyak utama , investor khawatir bahwa perang sipil yang sudah berlangsung selama dua tahun bisa mempengaruhi pasokan minyak dari negara-negara di kawasan tersebut.
Para pelaku pasar juga khawatir tentang keterlibatan Iran , yang merupakan produsen minyak terbesar keenam OPEC .
Investor kini menunggu laporan nonfarm payrolls AS yang dipandang sebagai kunci untuk Fed dalam menentukan arah kebijakan stimulus ekonomi.
Program stimulus dipandang oleh banyak investor sebagai pendorong utama dalam meningkatkan harga ekuitas global .
Pada hari Rabu , American Petroleum Institute mengatakan persediaan minyak AS turun 4,2 juta barel untuk pekan yang berakhir 30 Agustus. Analis memperkirakan penurunan 2,5 juta barel .
Di tempat lain , di ICE Futures Exchange , kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Oktober naik 0,24 % diperdagangkan pada USD115.19 per barel , dengan selisih antara Brent dan minyak mentah sebesar USD7.86 per barel .










0 komentar:
Post a Comment