English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Friday, August 16, 2013

Eropa Mulai Pulih Dari Krisis


Resesi zona euro tampaknya segera berakhir dipacu oleh data  ekonomi terbaru dari Jerman dan Perancis. Namun, pemulihan ekonomi yang sifatnya moderat takkan terlalu berpengaruh dalam menambal masalah yang lebih serius yang dialami negara-negara pada zona tersebut. Selain itu, sejumlah pemerintahan di Eropa dikhawatirkan menjadi terlalu berpuas diri dengan keadaan saat ini.

Mata uang zona euro kembali melambat—dipastikan melalui data yang terbit Rabu yang menunjukkan tingkat perekonomian hanya bertumbuh sebesar 1,1% per tahun pada triwulan kedua—yang akan mendorong para politisi Eropa untuk melontarkan klaim mengenai meredanya krisis utang kawasan. Upaya membabi-buta yang dulu pernah diluncurkan guna memulihkan zona euro mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.

Banyak ekonom menyatakan pemulihan ekonomi berjalan terlalu lamban untuk bisa menangani sejumlah masalah zona euro seperti utang yang masih menggelembung, tingkat pengangguran tinggi, perbankan yang limbung serta instabilitas politik.

“Tanda positif selalu bagus, tapi belum tentu membantu pemulihan,” ujar Adam Posen, presiden Peterson Institute for International Economics di Washington, Amerika Serikat. “Masalah utamanya terletak pada legitimasi pemerintah yang telah rusak, serta pada kapasitas produksi Eropa yang tak lagi mendapatkan investasi, dan pada masalah tenaga kerja, yang diwarnai pengangguran berkepanjangan termasuk di kalangan muda.”

Produk domestik bruto 17 negara zona euro meningkat 0,3% pada triwulan kedua dibandingkan dengan kuartal pertama. Situasi tersebut mengakhiri enam triwulan masa kontraksi. Kemajuan itu ditandai dengan pertumbuhan tiga bulanan sebesar 0,7% di Jerman dan 0,5% di Perancis.

Jerman kembali mencatatkan kenaikan signifikan selepas musim dingin. Sektor konsumen dan pemerintah di Perancis melakukan belanja dengan lebih bebas pada kuartal yang berakhir Juni. Para analis memprediksi adanya kenaikan pertumbuhan di masa mendatang meskipun masih lamban.

Perekonomian Spanyol, Italia, dan Yunani yang telah terpuruk kembali mengalami kontraksi, walaupun lebih lemah dari sebelumnya. Portugal—salah satu negara zona euro yang menjalani program dana talangan—tumbuh secara mengejutkan pada level 1,1% kuartal lalu.

Setelah Bank Sentral Eropa mengakhiri kepanikan di pasar obligasi negara zona euro setahun lalu dengan menjanjikan pembelian surat utang berskala besar, fokus krisis Eropa bergeser efek samping perekonomian seperti tingkat pengangguran yang meninggi, kurangnya kepercayaan di ranah usaha, dan terkikisnya bangunan sosial. Euro punya peluang besar untuk bertahan, dengan tingkat kemakmuran Eropa sebagai pertaruhannya.

Pertumbuhan sebesar 0,3% per kuartal takkan mengubah kondisi bahkan meski keadaan itu bisa dipertahankan.

“Jika pertumbuhan per tahun selama empat tahun mencapai 2%-3%, mungkin kita bisa selamat, karena tingginya tingkat pertumbuhan bisa menghapuskan noda masa lalu,” ujar Charles Wyplosz, profesor ekonomi Graduate Institute, Jenewa. “Namun, saya tidak mengetahui dari mana pertumbuhan semacam itu akan tercipta.”

(Mario Prabowo)

Sumber: The Wall Street Journal

0 komentar:

Post a Comment

 
Back to Top