
Nilai mata uang dolar Amerika Serikat (AS) kembali terpuruk seiring dengan munculnya keraguan pada diri para investor mengenai kekuatan pemulihan ekonomi Amerika.
Indeks dolar Wall Street Journal, papan ukur nilai tukar dolar AS terhadap tujuh mata uang terkemuka dunia, turun sebesar 4% pada sebulan belakangan dan mencatat pelemahan tujuh minggu pada Jumat lalu. Sebelum terjadi aksi jual, yang dimulai setelah dolar mencetak rekor kenaikan dalam tiga tahun pada awal Juli, dolar naik sebesar 8,3% tahun ini.
Menurut sejumlah manajer dana kelolaan, perubahan cara pandang mengenai kapan tepatnya bank sentral Amerika Serikat mulai mengekang kebijakan easy money di tengah krisis keuangan membalik situasi.
Investor menimbun dolar pada awal tahun di tengah keyakinan bahwa pemulihan ekonomi AS akan mendorong bank sentral AS akan mengurangi aksi beli obligasi, yang menyalurkan $85 miliar ke dalam perekonomian AS tiap bulan.
Menurunnya pasokan dolar tidak saja akan mendongkrak nilai mata uang tersebut. Menurut para analis, sinyal positif mengenai perekonomian AS akan memancing aliran uang dari luar AS.
Namun, buruknya data ekonomi telah memicu para investor mata uang untuk mengurangi sepkulasinya atas dolar yang bertopang pada program pembelian surat utang bank sentral AS pada September.
Sejak akhir Mei, para investor memangkas investasinya pada dolar sebesar 49% menjadi $21,7 miliar.
“Kami berada pada titik tempat para investor tak lagi memiliki keyakinan apakah dolar akan terus bertahan,” ujar Samir Sheldenkar, mitra investasi dari Harmonic Capital Partners LLP, London. Perusahaan itu baru-baru ini memangkas investasi dolar karena tingkat pertumbuhan lapangan kerja di AS belum lagi membaik sejak awal tahun.
Kini, investor seperti Sheldenkar mengatakan pemangkasan program pembelian obligasi kemungkinan akan diterapkan pada Desember.
Bank sentral AS mengatakan takkan mengurangi pembelian obligasi karena pasar tenaga kerja AS mengalami kemajuan “mendasar.” Pada Juli, 162 ribu lapangan kerja di AS tersedia. Jumlah itu lebih rendah dari harapan para ekonom.
Pada saat yang sama, ada sejumlah tanda bahwa resesi selama 1,5 tahun di Eropa akan segera berakhir dan memperbesar daya tarik mata uang euro. Demikian pula, kecemasan bahwa perlambatan ekonomi Cina akan menyeret perekonomian global kini terbukti berlebihan. Hal tersebut dapat kembali membangkitkan ketertarikan pada aset lebih berisiko seperti mata uang negara berkembang.
Para investor mata uang memusatkan perhatian pada laporan lapangan kerja berikut yang rencananya akan dilansir pada 6 September. Pasalnya, pengumuman itu diyakini akan menunjukkan langkah bank sentral AS selanjutnya pada pertemuan 17-18 September.
Menurut para analis dan investor, jika Federal Reserve tidak mengumumkan adanya pemangkasan program pembelian obligasi, dolar akan kian terpuruk.
(Mario Prabowo)










0 komentar:
Post a Comment