Thursday, July 18, 2013
Nasib Asia Usai Surutnya Modal Asing
Investor kini sudah menyadari dampak
apa yang bakal dirasakan Asia saat terjadi pencabutan bertahap kebijakan easy
money di negara Barat. Contohnya eksodus kapita besar-besaran dan
menurunnya bursa saham Asia bulan lalu, ketika para investor mengevaluasi
kembali risk appetite mereka. Keuntungan yang lebih tinggi di Amerika
Serikat (AS) diduga akan menarik lebih banyak investasi kembali dari negara
berkembang.
Fenomena ini berpotensi mengejutkan
para pemimpin di Asia, yang terbiasa meraup hasil pertumbuhan dari banjir
investasi asing di negaranya. Investor yang masih berkomitmen di Asia akan
mencari negara yang memiliki level keseimbangan antara risiko dan keuntungan yang
paling menarik. Kini saatnya menilik ulang reformasi ekonomi yang akan membuat
investor bertahan.
Pemerintah negara-negara Asia
tentunya khawatir akan arus investasi keluar dari negaranya. Bank sentral India
mengambil kebijakan untuk memperketat likuiditas dalam sistem perbankan guna
menambah permintaan untuk rupee. Nilai tukar rupee terhadap dolar AS telah
jatuh selama lebih dari satu bulan. Minggu lalu, Bank Indonesia secara
mengejutkan menaikkan suku bunga acuan 0,5 poin persen guna kembali menarik minat
investor asing. Pada Juni, jumlah investasi yang keluar dari Indonesia mencapai
sebesar $4 miliar. Dalam periode yang sama, mata uang seperti ringgit Malaysia
dan baht Thailand juga merosot terhadap dolar AS.
Dari segi tertentu ini adalah
berkah, lantaran situasi seolah kembali ke status quo sebelum kebijakan quantitative
easing (QE) dimulai. Volume modal yang masuk melebihi pemanfaatan kapita
yang produktif, sehingga cenderung memicu gelembung kredit dan harga aset. Bank
sentral kesulitan menahan desakan inflasi karena kenaikan suku bunga justru
akan lebih menarik investor asing.
Pada akhirnya, ekonomi Asia akan
diuntungkan oleh penilaian risiko investasi yang lebih normal. Namun pencabutan
QE oleh AS pun akan menimbulkan masalah. Bank sentral mungkin perlu
meningkatkan suku bunga untuk menstabilkan nilai tukar mata uang di tengah
pesatnya capital outflow, seperti yang dilakukan Indonesia dan India.
Namun kebijakan ini harus diambil di tengah pertumbuhan dalam negeri yang
melamban. Sementara itu, seperti yang ditulis oleh Frederic Neumann dari HSBC,
negara-negara Asia tak lagi dapat menggantungkan pertumbuhan ekonomi mereka
pada ekspor ke AS, meski ekonomi di sana mulai pulih.
Maka, tugas bagi negara-negara Asia
kini adalah membuka kesempatan baru bagi investasi baru, dengan imbal yang
cukup besar untuk membenarkan alokasi modal yang lebih langka dan lebih mahal.
Dari segi ekonomi tentu ini tidaklah sulit. Asia yang tengah berkembang masih
memiliki keunggulan seperti demografi yang positif, tenaga kerja yang rajin,
basis konsumen yang potensial, dan banyaknya ruang bagi investasi yang dapat
merangsang tingkat pertumbuhan tinggi. Namun seringkali aspek politik yang
menjadi hambatannya.
India beberapa minggu terakhir
mengapungkan ide-ide yang tepat. Mereka berniat meliberalisasi aturan bagi
investasi langsung dan portofolio, guna menjadikan negaranya lebih ramah bagi
investor asing. Sejumlah industri, seperti ritel, menawarkan banyak potensi
untuk peningkatan produksi dan pertumbuhan, yang mampu menarik investor di
tengah langkanya modal asing saat ini. Namun sejauh ini New Delhi tidak sanggup
membendung penolakan pihak oposisi atas ide tersebut. Industri ritel nampaknya
tidak akan tercakup dalam proposal liberalisasi, jika rancangan aturan itu
diajukan bulan ini. Kegagalan ini akan lebih merugikan India mengingat modal
yang kian mahal.
Kuala Lumpur mungkin harus menimbang
ulang kebijakan perekrutan karyawan di Malaysia. Sejak dulu perusahaan lebih
memihak etnis Melayu, sehingga perlu ditinjau apakah hal ini akan menghambat
produktivitas yang dibutuhkan Malaysia guna menangani mahalnya ongkos kapita.
Indonesia telah membuat kemajuan
dengan beberapa reformasi seperti pengurangan subsidi bahan bakar minyak secara
bertahap. Namun di lain pihak, pemerintah kian gencar menerapkan proteksi di
beberapa industri terhadap investor asing, seperti pertambangan.
Semua ini terjadi bahkan sebelum
bank sentral AS, Federal Reserve, mencabut kebijakan QE-nya. Mungkin saat ini
investor telah siap mengantisipasi keputusan yang kelak akan diambil pemimpin
Fed, Ben Bernanke. Dari segi itu, arus keluar modal dari Asia dapat dianggap
lebih sebagai peringatan ketimbang realita baru. Namun peringatan ini harus
diperhatikan negara-negara Asia, di saat mereka masih memiliki waktu untuk
menyiapkan ekonominya di dunia pasca-QE.
Sumber : http://indo.wsj.com/posts/2013/07/17/nasib-asia-usai-surutnya-modal-asing/











0 komentar:
Post a Comment