English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Friday, October 11, 2013

Harga Minyak Menguat, Meski Masih Dalam Trend Turun



Harga minyak mentah merangkak naik. Sinyal kemajuan pembahasan plafon utang di Amerika Serikat (AS) antara Partai Republik dan Partai Demokrat, memberi sentimen positif pada harga komoditas ini.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2013 di Nymex, kemarin pukul 16.00 WIB, menguat 0,38% menjadi US$ 102 per barel dibanding sehari sebelumnya.

Sebelumnya, harga minyak WTI terkoreksi hingga mendekati harga terendah dalam tiga bulan terakhir. Kondisi ini berlangsung setelah laporan  persediaan minyak mentah AS melonjak tajam dalam setahun. Energy Information Administration (EIA) menyebutkan, stok minyak mentah bertambah 6,8 juta barel pada pekan lalu menjadi 370,5 juta barel. Ini level tertinggi sejak 5 Juli lalu.


Gordon Kwan, kepala penelitian minyak dan gas di Nomura Holdings Inc., mengatakan,  data persediaan minyak yang meningkat akan membatasi rebound harga minyak. "Selain itu, jika kebuntuan penyelesaian plafon utang pemerintah AS tidak segera diselesaikan, ini akan menimbulkan risiko harga minyak bisa terjun di bawah US$ 100 pada pekan depan," kata dia seperti dikutip Bloomberg.

Perkembangan pembahasan anggaran antara Partai Demokrat dan Partai Republik memberi harapan bahwa AS akan meningkatkan plafon utang sebelum batas waktu 17 Oktober 2013.

Selain itu, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh pergolakan politik di Libia, negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di Afrika. Perdana Menteri Libia, Ali Zeidan diculik oleh kelompok revolusioner.  Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas politik Libia yang dapat berdampak pada menurunnya produksi minyak di negeri itu.

Berdasarkan hasil survei Bloomberg, harga kontrak minyak WTI kemungkinan akan naik pada pekan depan seiring adanya kesepakatan di AS. Sekitar 14 dari 33 analis atau 42% memprediksi harga minyak akan naik hingga 18 Oktober mendatang. Sementara, 11 responden atau 33% memprediksi penurunan harga minyak. Delapan lainnya meramal tidak ada perubahan pada harga minyak.

Sementara itu, harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengantaran November naik US$ 2,74 atau 2,5% menjadi US$ 111,80 per barel di ICE Futures Europe exchange, kemarin.
Secara teknikal, harga minyak masih menunjukkan trend bearish. Hal itu tercermin dari harga yang berada di bawah moving average (MA) 100. Harga minyak bisa memasuki tren penguatan jika harga mampu menembus US$ 102,74 per barel.

Hingga akhir pekan ini, harga minyak diprediksi akan berada di rentang antara US$ 101-US$ 103,70 per barel.


Sumber: http://investasi.kontan.co.id


 

0 komentar:

Post a Comment

 
Back to Top