Menurut media yang mengutip pernyataan PM Li, Beijing News, pertemuan Dewan Negara pekan lalu menyimpulkan pertumbuhan ekonomi tidak boleh berada di bawah 7% karena pemerintah akan terbantu untuk mencapai target untuk melipatgandakan skala ekonomi pada dasawarsa ini.
Pada forum tersebut, PM Li mengatakan target pertumbuhan “masuk akal” sebesar 7,5% ditetapkan dengan pertimbangan pada stabilitas pasar tenaga kerja. Menurutnya, toleransi pemerintah untuk inflasi konsumen mencapai 3,5%, demikian laporan tersebut.
Cina menetapkan target pertumbuhan 2013 sebesar 7,5% dalam pertemuan tahunan Kongres Rakyat Nasional, Maret lalu. Tingkat pertumbuhan sebesar 7% per tahun menjadi yang terendah sejak 1990 serta menyiratkan penurunan menjadi di bawah 7% pada semester kedua. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua sebesar 7,5% year-on-year setelah kenaikan 7,7% pada kuartal pertama.
Pemerintah menolak untuk melakukan intervensi dan menaikkan belanja fiskal guna menopang ekonomi yang melemah. Banyak analis terpancing untuk memangkas prediksi pertumbuhan tahun ini menjadi di bawah 7,5%.
Menurut PM Li, ada batas terendah pertumbuhan dan batas teratas inflasi dalam perencanaan pemerintah. Laporan resmi tidak menyertakan angka pasti.
“Selama tingkat pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja serta indikator lain tidak berada di bawah batas terendah yang kami patok dan inflasi tidak melebihi batas atas, [kami akan] berfokus melakukan restrukturisasi dan mendesakkan reformasi,” ujar Li dalam pernyataan yang dimuat di laman pemerintah pusat pada 10 Juli.
“Pertumbuhan stabil dapat menciptakan ruang dan kondisi untuk reformasi struktural dan reformasi struktural dapat memberi momentum bagi pembangunan ekonomi,” ujarnya dalam pertemuan dengan para pemimpin pemerintah.
Pertumbuhan PDB harus mencapai rata-rata 6,9% per tahun pada 2013 hingga 2020 guna memenuhi target pertumbuhan lipat dua ketimbang dekade ini, ujar Xinhua. Menurut stasiun televisi itu, 7% adalah batas bawah pertumbuhan yang efektif.










0 komentar:
Post a Comment