English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Thursday, July 18, 2013

Pemilu Tentukan Nasib Militer Jepang

Tokyo - Masahisa Sato berdiri di balairung di bawah bendera Jepang raksasa dan membacakan surat seorang pilot pesawat bunuh diri Jepang pada masa Perang Dunia II yang dikirimkan kepada putri mungilnya.

“Jangan memandang dirimu sebagai anak yatim. Aku akan selalu menjaga keselamatanmu,” ujar Sato mengutip tulisan itu sebelum menerbangkan pesawatnya ke arah armada laut Amerika Serikat (AS) di Filipina pada 1944. Dalam kokpit pesawat, terdapat boneka kesayangan sang putri.

Hadirin terdiam. Sato berucap dengan suara parau: “Ada orang-orang yang ingin kami lindungi. Harus ada keteguhan untuk mewariskan negara ini ke generasi selanjutnya.”

Sato bukan orang sembarangan. Ia adalah penasihat pertahanan utama Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe dan anggota parlemen Jepang yang berkampanye untuk pemilihan yang akan digelar Minggu. Pemilu tersebut akan ikut berpengaruh terhadap pemerintahan Abe—serta kemampuan sang perdana menteri memuluskan agenda perubahan militer Jepang yang belum pernah terwujud sejak negara itu kalah perang hampir 70 tahun lalu.

“Suara yang Sato dapatkan menentukan strategi keamanan nasional yang partai kami perjuangkan,” ujar Shigeru Ishiba, pejabat partai berkuasa, kepada para calon pemilih. “Kita harus kembali membangkitkan kekuatan Jepang. Kita masih punya waktu beberapa tahun untuk mewujudkannya.”
Pemilu itu dianggap menjadi jalan bagi Jepang untuk memiliki angkatan perang lebih solid seiring dengan memanasnya ketegangan di tingkat regional. Perubahan sikap serta bergantinya generasi mengikis sikap cinta damai pascaperang.

Pemicunya adalah Shinzo Abe, perdana menteri berhaluan nasionalis yang telah lama berupaya mengakhiri “rezim pascaperang” dan membuat Jepang menjadi “negara biasa.” Artinya, ada keinginan membebaskan militer yang dikenal sebagai Pasukan Bela Diri dari belenggu pascaperang.
Sejak duduk di kursi pemerintahan pada Desember, Abe sangat giat melakukan tugasnya. Selain meluncurkan stimulus untuk menggenjot perekonomian, ia menekankan sikapnya yang kukuh menentang ambisi Cina menguasai wilayah, selain menghadapi sikap permusuhan Korea Utara. PM Abe menaikkan anggaran pertahanan Jepang untuk pertama kalinya dalam 11 tahun dan menjanjikan kerja sama pertahanan lebih luas dengan para sekutu seperti AS dan India.

Partai Demokrat Liberal yang ia pimpin diharapkan mencetak kemenangan dalam pemilu, yang akhirnya akan memberinya mandat kuat. Abe, yang tidak mencalonkan diri, masih sangat populer dengan tingkat penerimaan masyarakat mencapai 60%.
Jargon kampanyenya: “Kami Akan Mengembalikan Kejayaan Jepang.” Kaum Demokrat Liberal mengatakan Jepang akan tetap di jalur damai dan militernya hanya akan terlibat dalam kegiatan bela diri. Namun, mereka mengusulkan agara definisi bela diri diperluas dan “kuantitas serta kualitas” militer ditingkatkan.

Buku Putih Pertahanan Jepang yang dirilis pada 9 Juli menyoroti perdebatan yang terus terjadi di kalangan dewan legislatif dan para birokrat mengenai pentingnya memiliki kekuatan marinir dan kemampuan melancarkan serangan dini ke markas lawan saat mereka berpotensi menyerang Jepang.

Sumber :http://indo.wsj.com/posts/2013/07/18/pemilu-tentukan-nasib-militer-jepang/?mod=WSJIdn__newsreel. 

0 komentar:

Post a Comment

 
Back to Top